Ada hal-hal menarik seputar kisah salib Yesus.

1. Kain Ungu


Semua orang tahu tas Hermes itu muahal banget harganya. Hampir semua ibu-ibu tidak akan menolak atau malahan berebut kalau ada yang kasih "gratis" (Rm Jo sok tau).

Tapi, bayangkan kalau tas super mahal itu dipotong-potong, disobek-sobek sampai tidak berbentuk lagi.


Apakah masih ada yang mau berebut?


Kira-kira seperti itulah alasan para prajurid tidak memotong jubah unggu yang dikenakan Pilatus kepada Yesus.

Sebab kain unggu tanpa jahitan, tenunan utuh dari atas ke bawah itu sangat amat mahal dan bergengsi tinggi. Itu pakaian raja/penguasa/orang kaya.

Tetapi kalau sudah dipotong-potong, tidak ada harganya lagi, gengsinya hilang.

Makanya prajurid bilang: diundi saja.


2. Orang Banyak Ternyata Tidak Punya Landasan Hukum yang kuat untuk Menghukum Yesus, Apalagi Untuk Menyalibkan Yesus.

Hukuman salib itu tidak ada dalam Hukum Taurat. Hukuman itu cara Romawi untuk menghukum penjahat kelas kakap/ pemberontak.

Karena argument mereka tidak kuat, maka mereka jadi plintat-plintut.  Membuat alasan yang dicari-cari.


Di awal,

ketika orang banyak di hadapan Pilatus, Pilatus menyuruh mereka mengambil Yesus dan menghakimi Yesus seturut hukum Taurat.

Lalu mereka bilang:  (Menurut hukum Taurat) Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang (yang tidak bersalah).

Kalimat dalam tanda kurung adalah tambahan Rm Jo untuk memperjelas duduk perkara.

Mereka sendiri mengaku tidak punya landasan hukum yang kuat untuk menghukum Yesus.

Beberapa saat kemudian, orang banyak tiba-tiba memaksa Pilatus untuk menyalibkan Yesus.

Pilatus bilang: Ambilah sendiri sebab aku tidak menemukan kesalahan pada Yesus.

Kali ini orang banyak berubah omongannya. Mereka bilang:

Kami mempunyai hukum, dan menurut hukum itu Ia harus mati. Sebab Ia menganggap diriNya sebagai Anak Allah.

Menurut orang banyak itu Yesus bersalah menurut hukum agama, tetapi harus dihukum pakai hukum Romawi (sipil). Aneh kan.

Ada beberapa tindakan dalam tradisi agama Yahudi yang pantas diganjar hukuman mati (dengan dirajam, bukan disalib) seperti:

Menyembah berhala, perzinahan, menculik, bernubuat palsu, fitnah.

Sejauh pencarian saya, saya tidak menemukan kalimat dalam Taurat bahwa orang yang menyebut Allah sebagai Bapanya harus dihukum mati.
(Catatan: saya masih terus mencari).

Malahan saya menemukan bukti-bukti dalam PL yang bisa menggugurkan tuduhan mereka.


Mzm 68:6


Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediamanNya yang kudus.

Di sini Pemazmur menyebut Allah sebagai Bapa. Pemazmur memposisikan diri sebagai anak.


Mzm 89:27-28


Dia (Daud) pun akan berseru kepadaKu: Bapaku Engkau, Allahku dan gunung batu keselamatanku.'

Aku (Allah) pun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi yang mahatinggi di antara raja-raja bumi. (Mzm 89:27-28)

Lihat bagaimana Allah menggambarkan relasinya dengan Daud, sebagai Bapa dan anak.


Hosea 11:1


Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anakKu itu. (Hos 11:1)

Perhatikan lagi-lagi Israel disapa sebagai anak oleh Allah.

Orang banyak yang tidak punya alasan kuat itu akhirnya larinya ke FITNAH.

Mereka menuduh Yesus berusaha melawan Kaisar karena menganggap diriNya Raja. Nah luh, apa pula ini.


Ujungnya cakep, coba baca:

Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!"

Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?"

Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!" (Yoh 19:15)

Mereka termakan jebakan/fitnah mereka sendiri.


Padahal dalam PL, selalu ditekankan bahwa Allah adalah raja/pemimpin satu-satunya bangsa Israel.

Nah sekarang mereka malah "melacurkan" diri mereka dengan menganggap kaisar (orang asing) adalah Raja mereka.

Jadi kesimpulannya: Siapa yang pantas dihukum di sini???


Selamat merenungkan sahabatku.

(RD Josep Susanto )

 

 

Go to top