Keluarga  Zaman  Now

     Peran keluarga semakin sentral, tempat pertama bagi seseorang untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan, norma, sikap, serta perilaku. Dunia telah menjadi satu, disatukan oleh media sosial yang mampu merevolusi pola komunikasi keluarga. Media sosial tak dipungkiri merupakan suatu anugerah Allah, kebutuhan sekaligus keniscayaan, tak hanya datang dengan manfaat, tetapi juga seabrek persoalan. Seperti Pancasila di era reformasi yang belakangan terus didelegitimasi keberadaannya. Tatap muka langsung yang memungkinkan masing-masing pihak membaca mimik muka, bahasa tubuh, hingga belaian dan sentuhan fisik kian hilang, bergeser ke komunikasi berbasis teks dan suara sebagai gaya hidup enggak nyetatus enggak keren. Keluarga zaman now ibarat paguyuban menunduk diam silent majority di dunianya sendiri. Ramalan kecanggihan teknologi sejalan dengan naluri hasrat manusia untuk berinteraksi agar kehidupan di bumi lebih harmonis dihuni, karena orang bebas bicara dan bertukar gagasan ternyata hanya ilusi. Media sosial memiliki keunggulan yang sekaligus menjadi kelemahannya the world in just the finger (Bill Gates, 62). Lemahnya peran keluarga hanya akan melahirkan generasi Gereja yang tumbuh dalam panduan media sosial.

Dari Lisan ke Digital

          Dari dua versi kisah penciptaan, satunya zaman Pembuangan di Babilonia abad 6 SM (Kej 1:1-2:4a) dan zaman raja Salomo, kelompok Yahwis abad 10 SM (Kej 2:4b-25). Meski bersumber dari satu Allah Aku adalah Aku, tampak menyolok beberapa perbedaan yang ditulis oleh penulis, zaman serta tujuan penulisan yang tentu lebih menekankan dimensi ilahinya. Kisah pertama, disajikan bak refrein sebuah madah pujian. Allah sungguh Maha Kuasa, hanya berkata “jadilah” semuanya jadi dech demikian, mulanya lingkungan hidup, disebutkan pohon dan tanaman yang semuanya baik. Meski manusia diciptakan paling akhir, dipahaminya sebagai proses serentak (all things were created together).  Kisah kedua lebih kronologis, Allah tampil lebih manusiawi, Ia bekerja bak seorang perajin periuk/gerabah, manusia diciptakan paling pertama menurut gambar dan rupa Kita, bumi masih kosong, ada pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.

          Sekarang sulit menyadari betapa pentingnya surat dalam penyebaran informasi dan komunikasi pada zaman Kitab Suci. Meski belum ada sarana media digital ribuan tahun silam, Alkitab mampu lahir lewat budaya lisan dan tulisan yang tak lekang oleh zaman. Dari pengalaman hidup yang konkret umat beriman, direnungkan, dihayati dalam terang iman, ditata, dirumuskan sampai akhirnya ditulis. Kehebatan memori ini menjadi jaminan kuat, bahwa apa yang diteruskan melalui tradisi lisan dan tulisan bukanlah hoaks, melainkan pemikiran relijius, penghayatan spiritual, fakta-fakta historis yang terjamin akurasinya.

          Kemajuan teknologi digital tak sedikit manfaat tersambung dengan perpustakaan pengetahuan dalam bentuk teks, audio-video pada aplikasi semisal eAlkitab, eKatolik, Dailyfreshjuice.net. Di sisi lain teknologi telah menjadi devosi baru, butir-butir tasbih rosario diganti dengan tuts-tuts canggih yang mudah didapat di toko-toko dengan cara kredit tanpa bunga. Beberapa unggahan melenting tinggi, memperlihatkan viral video seorang perempuan bugil berbelanja di kawasan Mangga Besar; terakhir ada tiang menabrak listrik, kena strom memar segede lemper. Dengan nurani yang bawel, unggahan itu menjadi positif dan produktif, jika dimanfaatkan untuk menggalang solidaritas sosial membantu dan  berbela rasa terhadap korban. Negatif dan kontraproduktif, karena orang-orang ramai berlalu lalang, tak terlihat ada yang menolong, semuanya asyik merekam dan menyebarkan videonya. Hanya satu, kebutuhan untuk merasa diterima aku viral, maka aku ada, entah mengapa manusia kini mulai galau dengan jati dirinya. “Semakin negatif yang diunggah, pengunggah justru makin populer, ini tidak dianggap sebagai hal yang buruk, tetapi biasa saja, dan pada titik itulah, manusia akan kehilangan kemanusiaannya.” (Catherine Steiner Adair, 63).

Me Time

          Langit tanpa batas, indera tak mencukupi, jarum jam di pergelangan tangan tak lagi menyimpan kecemasan didera waktu, disini waktu telah istirah, rebah dalam pelukan pemiliknya, waktu seolah tidak lagi hadir, semakin relatif dan kehilangan maknanya. Setiap pagi ketika mata bisa melek, hal pertama diingat bukanlah mengucapkan terima kasih kepada sang empunya waktu untuk dapat hidup hari itu, malah mencari rencana bangun tidur (RBT) daily habit untuk mem-burnout status di gawainya, ketakutan tertinggal update atas kejadian dan kehidupan orang lain yang di-follow, ada sekularisasi baru. Teknologi  mampu membawa manusia mengetahui sejuta informasi yang berhubungan dengan dunia nyata, menjadikan manusia seperti makhluk halus yang berselancar juggling di mana-mana meski tak ke mana pun. Dengan sekali klik, secara sporadis dalam hitungan detik, terhubunglah lintas teritori hingga ke pelosok-pelosok, bahkan ke individu-individu tanpa kendali oleh sebuah aplikasi yang bisa dengan mudah mengetahui siapa sedang mengerjakan apa dengan siapa di mana the world is flat, kecuali aktifitas koh Ahok menerawang Kitab Suci di tempat retretnya (tui phu jie  koh....)

          Tak kenal hari tak kenal jam, berafiliasi masif terstruktur pada media sosial digital social climber, hidupnya di alam nyata, maya dan eksklusif. Sang ayah digital immigrants, sambil mengetik pada laptop, matanya berkonspirasi pada gawai untuk gibberish di grup percakapan Whatsapp, sementara tablet di atas meja memberi tanda proses unduh aplikasi dari google play selesai. Anaknya digital native, generasi langgas tingkat nano menyaksikan lewat gawai atraksi terbaru vlogger di Youtube, tak lama ia menempelkan finger print sebagai kata kunci di mesin pencari untuk menjaring klik, like, comment, dan share. Pada saat yang sama, aplikasi Snapchat  menyeruak pada gawainya memberi tahu ada pesan baru, teman sekolahnya berkirim video porno kiriman gurunya. Adiknya generasi stroberi, yang belum lurus kencingnya, bau amis pula, tengkurap di tempat tidur leyeh-leyeh bermain gim carmageddon pada tablet yang baru diunduhnya, sambil mengedukasi sang ibu yang keranjingan swafoto, tersisa kakek-neneknya generasi gagap hanya bisa mengakrabi telenovela Korea. Semuanya menunduk, bungkam dan bancakan, keasyikan scrolling down-up linimasa, tak ada yang tidak dicuekkan, tanpa disadari ada indikasi disintegrasi keluarga menjauhkan yang dekat. Ketika piranti digitalnya rusak, sampai pelosok pun bisa ditemukan kios seluler yang mampu membereskannya dengan segera, inilah wajah dari peradaban keluarga modern. Tak ada yang lebih cerdas dari mbah gugel soal data dan pengetahuan, semua jawaban tersedia, rujukan kebenaran tidak lagi di monopoli oleh orangtua.

          Sesungguhnya dirinya akan menjadi budak media sosial, yang tanpanya seolah hidup tak berarti. Media sosial sudah menjadi bagian inti, bagian dari gaya hidup keluarga urban. Diorkestrai oleh media digital dalam wujud berbagai gadget, secara kolosal orang melakukan sejumlah pekerjaan  multitask, dari satu subyek ke subyek lain, belum selesai suatu hal ditangkap, dicerna, telah muncul hal lain lebih aktual trending topic. Ada sumber pemuasan kebutuhan manusia akan pergaulan lintas kerabat lewat media digital mondial community, yang tak ada di lingkungan keluarganya. Fenomena karakter keluarga yang menampik kelampauan, mengunggulkan kedepanan, sukanya mengeksplorasi wifi dan colokan. 

Spend Time with Family, Not with Devices

          “Sebuah keluarga yang jarang makan bersama, atau saling berbicara di meja makan, karena lebih memilih memandang layar ponsel dan televisi, adalah jenis keluarga yang sulit untuk  dibilang sebagai sebuah keluarga. Ketika anak-anak berada di meja makan tapi sibuk dengan komputer dan ponsel mereka serta tidak mendengarkan satu sama lain, itu namanya bukan keluarga tapi pensiunan. Ketika kita berada di meja makan, ketika kita berbicara dengan yang lainnya dengan ponsel kita, itu merupakan tanda dimulainya perang karena tidak ada dialog yang terjadi.” Anjuran Apostolik yang didedahkan Paus Fransiskus, mengecam hari dan pikiran keluarga dikuasai, kecanduan terhadap teknologi gawai technologically intoxicated. Paus asal Argentina itu memang tidak asing dengan media sosial, terutama Twitter yang akunnya telah memiliki hingga lebih dari 14 juta pengikut, meski begitu Paus kerap sangat menentang telpon genggam, sampai-sampai Paus Fransiskus pun pernah mencoba membujuk remaja masa kini untuk sesekali menukar ponsel mereka dengan Alkitab. Tak ada lagi dunia selain apa yang ditampilkan pada linimasa, tak ada waktu sacred time untuk orang terdekat, semesta bahkan Sang Pencipta. Saat jeda, orangtua lalai untuk bertatap muka dan sungguh mendampingi anaknya, merasa cukup mengunggah di akunnya: “Nak, sudah makan lom? sedih nak mendengarmu sakit, cepat sembuh ya.” Menjajakan waktu bersama anak-anak lebih penting daripada memanjakan dengan ponsel anyarnya. Fisiknya hadir, nyaris menganeksasi waktunya demi keegoisan masing-masing dirinya, sangat mungkin sindroma merusak diri sendiri yang tidak diinginkan menjadi kenyataan. Sarat dengan informasi dan hiburan, mampu menyajikan hal-hal yang berlawanan dengan nilai-nilai kekristenan, sukses mengubah prioritas cinta seseorang kepada Tuhan, menggantikan meja makan yang riuh dengan curahan hati ke sebuah meja makan baru bernama aplikasi. Bukankah orang Jawa bilang, mangan ora mangan, asal ngumpul? Dalam hidup ada hal yang jauh lebih penting ketimbang sandang, pangan dan gawai.

          “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” (Kis 2:46+). Berkumpul bersama, bertekun dalam doa dan merayakan Ekaristi secara bergiliran dari rumah ke rumah, diperlihatkan sangat jelas oleh keluarga-keluarga Kristiani jemaat perdana. Mereka sungguh merasa dikuatkan dan diteguhkan untuk berani menjadi saksi Kristus di tengah-tengah jemaat Yahudi kala itu. Mereka dibawa kepada pengenalan yang semakin akrab dan mendalam, membantu yang berkekurangan, membangun relasi dengan berpola pada relasi antara Kristus dengan Bapa-Nya dan Kristus dengan umat-Nya. Mensyukuri semua anugerah-Nya, membawa semua persoalan ke hadapan-Nya bersama dengan seluruh anggota keluarga dalam kasih persaudaraan satu sama lain sebagai buah-buah kasih Kristus. Sangatlah wajar bila setiap orang meluangkan waktu dan kesempatan pribadinya untuk berkumpul dalam persekutuan doa di dalam keluarga, lingkungan atau wilayah, yang menjadi bagian pokok dari keberadaan komunitas Kristiani.

          “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1:43). Setelah Maria mendapat kabar dari Malaikat Gabriel, tanpa ba bi bu bergegaslah ia menuju ke pegunungan di sebuah kota di wilayah Yehuda. Theotokos itu rela mengorbankan banyak hal, menafikan semua, demi perjumpaan melepas rindu bertemu sanak dan handai taulannya. Dalam kondisi sarana transportasi dan komunikasi yang minim di jaman itu, tentunya bukanlah suatu perjalanan yang mudah dan menyenangkan untuk berkanjang mendekatkan yang jauh. Praktik komunikasi silaturahim presence and patience untuk saling melepas rindu, menyapa, berjabat tangan, berpelukan, memberi salam dan berkat yang dipenuhi oleh Roh Kudus, menjadikan suasana yang penuh dengan kegembiraan dan sukacita, bahkan jabang-bayi di dalam rahim pun ikut merasakannya dengan melonjak kegirangan oleh sebuah kunjungan. Di era Jurassic yang telah terasa tidak hangat dan erat lagi, karena terjebak oleh rutinitas kehidupan sehari-hari, yang hanya berkutat sekitar karier, pekerjaan, relasi atasan-bawahan. Ideologi gawai jawaban terhadap tuntutan zaman globalisasi yang bergerak, berlari dan berkembang begitu cepat meninggalkan aspek kehidupan rohani dan lebih mementingkan yang serba profan. Dengan sekedar memberi salam melalui komunikasi elektronik sudah cukup efektif, dibandingkan saling mengunjungi dan terjadi kontak fisik, tindakan silaturahim say it with flower tidak lagi menjadi suatu keharusan.

          “Keluarga adalah sel dasar dari masyarakat, di mana kita belajar untuk hidup dengan orang lain meskipun kita berbeda dan menjadi milik satu sama lain. Keluarga juga merupakan tempat orangtua mewariskan iman kepada anak-anak mereka” (Evangelii Gaudium, art 66). Setelah masa pembuangan, kerajaan Yehuda runtuh, diaspora kececeran dimana-mana, struktur suku kabur. Keluarga menjadi tempat utama untuk mewariskan tradisi hikmat Israel kepada angkatan mudanya. Melalui proses belajar-mengajar, ayah sebagai guru hikmat mengajarkan Taurat kepada anak-anaknya sejak di bedung, tak ada argumen tanpa hikmat, ibu menarik hati anak didik dari dekadensi moral dan celaka (Ams 1:8). Ketika dipenjarakan tak lama menjadi martir, rasul Paulus mengelaborasi pengembalaan jemaatnya bersama startup Timotius, murid dan rekan sekerjanya. Digadang-gadang dengan pendidikan dasar iman dari keluarganya (2Tim 1:5), Paulus yakin Timotius mampu mengembannya. Dalam keluarga terjadi sesuatu yang sangat hakiki, ada pendidikan relijius dan penerusan iman, keduanya untuk menjamin bahwa perkenalan diri Allah yang perlu dijawab dengan kasih itu tetap aktual. Keluarga sebagai Gereja kecil Ecclesia domestica menjadi satu-satunya tempat dimana anak-anak dan generasi muda dapat menerima katekese yang otentik (Familiaris Consortio, art 52).

          “Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: "Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum” Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya.” (Dan 1:11+,15,20) Pada zaman pembuangan, raja Nebukadnezar dari Babel memilih beberapa anak muda bangsawan Yehuda untuk dididik secara khusus, hidup dengan standard kerajaan. Daniel dan teman-temannya dicobai diberikan fasilitas yang menggoda, tidak keblinger oleh makanan dan minuman dari meja raja. Mereka sepuluh kali lebih waras dan cerdas dari anak-anak muda kerajaan, tampil sebagai generasi yang setia pada hukum Tuhan dan perjanjian-Nya. Syaloom..... kids zaman now, kalian bukan anak gampang dari generasi micin, hura-hura dan penggila medsos, tetapi generasi Gereja akan datang, bangkit beraliansilah kepada Daniel dan temen-temannya yang tidak jemawa dengan hedonisme fides, scientia, excellentia.

Akhirul Kalam

          Menyitir komentar mendiang Steve Jobs (1955-2011) saat ditanya apakah anak-anaknya menyukai iPad buatannya, “They haven’t used it, we limit how much technology our kids use at home.” Gereja peduli dan bertanggungjawab membela, mempertahankan domain orang tua untuk menjadi guru pertama bagi anak mereka dalam bidang agama dan moral. Teknologi gawai tak dapat menggantikan peran orang tua di rumah, teknologi hanya berbasis pengetahuan, orangtua memiliki kebijaksanaan asam-garam pengalamannya. Bersama menyelamatkan anak-anak dan membangun komunikasi terbuka yang asih memberikan kasih sayang, asah kegiatan yang menstimulasi kecerdasan anak, asuh teknis pengasuhan, mengintegrasikan kompetensi, karakter dan literasi kelak menuju manusia Kristiani. Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) menggagas klu Gerakan 1821, himbauan kepada keluarga untuk melakukan puasa gawai gadget free hours dari pukul 18.00 sampai dengan pukul 21.00, yang dianggap mampu memperkuat ketahanan keluarga dengan mengoreksi dominasi gawai tidak segala hal harus di-posting, tidak semua perlu diketahui. Keluarga kini dimudahkan teknologi memang menghadapi dilema, media sosial tak bisa dikekang, Kabar Gembira Injil perlu diwartakan, tentu tidak mudah ditarik garisnya dengan tegas. Gitu aja bro, dah low bat nech.... Tuhan Memberkati. ***Rumaji.

Go to top