Menghayati Peran Yusuf dan Maria

Natal adalah perayaan sukacita dan ucapan syukur karena kelahiran Yesus Kristus, Anak Allah.  Allah datang kepada kita, menjadi manusia, menempuh jalan salib, mati dan bangkit untuk menyelamatkan kita dari kutuk maut.

Merefleksikan peristiwa kelahiran Yesus Kristus, kita tidak dapat mengabaikan peran Yusuf dan Maria, tukang kayu dan gadis desa, dua sosok manusia sederhana yang tulus hati. Dua orang muda-mudi kristiani, seorang Kristen Katolik dan seorang Kristen Protestan, berkenan membagikan refleksi mereka ketika memerankan Yusuf dan Maria dalam tablo “Kisah Natal Pertama” ketika Perayaan Natal di kantor mereka. Simak cerita mereka di bawah ini (redaksi).

 

Aditya:

Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38), adalah respons Maria ketika menerima kabar malaikat bahwa ia akan mengandung dan melahirkan Yesus. Jawaban yang berasal dari ketaatan total tersebut mematahkan tiga kemustahilan dan menciptakan konsekuensi pengorbanan besar yang harus ia tanggung. Dalam menjalankan misi ini, Maria menghadapi tiga kemustahilan, yakni: mengandung tanpa berhubungan badan, mengandung benih Allah, dan menjelaskan kehamilan kepada keluarga, khususnya Yusuf tunangannya. Bukan hanya itu, Maria juga harus menghadapi konsekuensi yang besar jika ia ternyata benar mengandung. Kemungkinan besar ia akan ditinggal oleh Yusuf, dihujat oleh keluarga, dan bahkan nyawanya melayang dirajam batu oleh masyarakat yang menuduhnya hamil karena berzinah.

Ketaatan Maria dan kesediaannya untuk berkorban sungguh dihargai Allah, sehingga Allah memberinya kesempatan untuk terlibat dalam sebuah misi paling mulia yang pernah ada, yakni menjadi ibu jasmani dari bayi Yesus, yang kelak akan menjadi Juruselamat dunia. Oleh sebab itu, Maria dijuluki sebagai orang yang “diberkati di antara semua perempuan” (Luk. 1:42).

Kita dapat memiliki pelayanan yang sama mulia dengan Maria, namun dalam bentuk yang berbeda. Kalau proyek ketaatan Maria adalah kesediaan berkorban untuk mengandung dan melahirkan Juruselamat dunia, maka proyek ketaatan kita adalah semangat untuk mewartakan Juruselamat yang telah dilahirkan Maria tersebut.

Selain ketaatan Maria, di dalam proses kehamilan sampai pada kelahiran Yesus, kita tidak dapat mengabaikan peran Yusuf. Sebelum resmi menjadi suami isteri, Yusuf harus menerima kenyataan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus. Sebagai seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama calon isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam. Tetapi dalam mimpi Yusuf mendapat perintah dari malaikat Tuhan untuk tetap menikahi Maria dan memberi nama anak yang akan dilahirkan itu Yesus. Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya

Bagi saya sebagai seorang pria, tidak sulit membayangkan reaksi Yusuf ketika mengetahui kehamilan Maria di luar nikah. Rasa kaget, kecewa, bingung, dan kemungkinan besar marah membuatnya memutuskan untuk meninggalkan Maria secara diam-diam, hingga Allah perlu turun tangan dengan mengutus malaikat menjelaskan peristiwa yang sebenarnya kepada Yusuf lewat mimpi (Mat. 1:18-21).

Cerita selanjutnya dalam kisah natal adalah tentang pengorbanan yang diberikan Yusuf untuk menyambut kelahiran Yesus. Pengorbanan terbesar Yusuf adalah kebesaran hatinya untuk mengesampingkan harga dirinya dengan mengizinkan calon istrinya mengandung janin yang bukan anaknya. Selain itu, ia juga bersedia mengesampingkan kenikmatan jasmaninya dengan tidak berhubungan badan dengan isterinya selama mengandung Yesus, dan tentu saja ditambah dengan pengorbanan materi dan waktu untuk melayani Maria selama mengandung hingga melahirkan.

Tanpa disadari, pengorbanan Yusuf sebenarnya sudah terlebih dahulu diberikan Yesus ketika Ia menjelma menjadi manusia. Untuk menjadi Juruselamat dunia, Ia rela melepaskan hak-Nya sebagai Pencipta yang disembah dan dipuja oleh para malaikat, meningalkan kemuliaan surgawi yang sempurna dan abadi untuk dilahirkan di tempat yang hina, dibesarkan dalam keluarga yang sederhana, menerima penolakan dan penghinaan dalam pelayanan, dan mengakhiri hidup secara tragis di kayu salib.

 

Nova:

Perayaan Natal di kantor pada tahun ini terasa istimewa bagi saya, karena saya diberi kesempatan ikut tampil dalam sebuah drama yang mengangkat kisah tentang kelahiran Yesus. Pengalaman ini sungguh luar biasa. Saya dapat lebih mengimani lagi tentang Yesus adalah Juruselamat. Seperti yang kita ketahui Yesus dilahirkan oleh ibu Maria yang mengandung dari Roh Kudus, dan proses kelahiran-Nya pun dalam keadaan yang sangat sederhana, lahir di kandang domba dikelilingi oleh para gembala. Namun dalam kesederhaan itu Yesus mendapat sambutan dari semua golongan. Semua percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat manusia.

Pada peran saya menjadi seorang Maria, saya dapat membayangkan betapa terkejutnya apabila di posisi kita belum menikah namun harus mengandung tanpa seorang suami. Jika terjadi pada diri saya, ini adalah masalah besar, karena banyak hal yang harus dihadapi, bagaimana jika diketahui oleh keluarga, betapa malunya jika diketahui masyarakat banyak. Namun Maria mampu menghadapi itu semua, karena dia benar-benar seorang perempuan yang taat. Dia letakkan semua kekuatirannya kepada Allah. Sebagai manusia biasa mungkin tidak semua dari kita mampu menyerahkan semua yang kita miliki untuk Allah. Banyak ketakutan akan kekurangan, namun sesungguhnya apabila kita percaya Allah akan mencukupkan kita.

Dari pentas ini saya dapat lebih merasakan makna natal yang sesungguhnya, di mana perjuangan Maria mempertahankan dan memperjuangkan anak Allah yang sedang ia kandung untuk dapat lahir ke dunia, meskipun banyak halangan dan rintangan yang harus dilalui. Dari perjuangan Maria, kita dapat memetik contoh di mana kesetian kita kepada Allah memang melalui banyak cobaan dan rintangan, di situlah iman kita dibentuk. Karena sebagai pengikut Yesus bukan berarti kita selalu di jalan yang mulus tanpa kerikil.

Dari sisi lain, melalui pentas ini yang bisa saya petik adalah kebersamaan dan keragaman. Di mana peran Maria diperankan oleh saya dari Gereja Kristen Indonesia dan Yusuf diperankan oleh Aditya dari Gereja Katolik. Meskipun kami dari gereja yang berbeda namun tidak mengurangi makna dan cerita drama yang kami pentaskan. Justru dalam proses untuk mencapai cerita yang sempurna kami harus menyatukan ide, pikiran dan satu tujuan untuk mensukseskan acara ini. Perbedaan bukan hal yang menyulitkan kami untuk berkreasi, justru perbedaan inilah yang dapat membuka wawasan kami tentang keragaman beragama, namun kami masih satu dalam Kristus Yesus.

Untuk para sahabat muda, kita tidak perlu membuat perbedaan itu menjadi penghalang berkreativitas. Kita tidak perlu membiarkan perbedaan itu memecahkan persatuan kita. Karena perbedaan ini yang membuat kita saling melengkapi, dan kebersamaan itu yang membuat suasana menjadi indah. Secara garis besar perbadaan itu indah, kita bisa menambah wawasan dari perbedaan dan menambah teman-teman baru, lebih mengakrabkan diri satu dengan yang lain. Bersama-sama saling menguatkan dan tetap fokus dalam satu tujuan untuk mencapai kesuksesan.

 

Pertanyaan Refleksi dari Aditya:

Dalam proyek ketaatan Anda di Natal tahun ini, kepada siapakah Anda ingin mewartakan berita kelahiran Juruselamat dunia?

Dalam pelayanan, ketika kita diremehkan, disalahpahami, dikorbankan, difitnah, atau bahkan dicela, apakah kita tetap setia melayani atau memilih mundur karena harga diri kita sudah dilukai?

Bersediakah anda mengorbankan waktu, tenaga, perasaan, atau harta demi menjalankan sebuah misi ketaatan layaknya Maria dan Yusuf?

Relakah anda mengesampingkan harga diri untuk menerima penolakan, tertawaan, atau bahkan siksaan ketika mewartakan Injil secara pribadi?

 

Go to top