Hari ini Kamis, 8 Desember 2016 (saat saya menulis refleksi ini) adalah hari bahagia untuk Tarekat Para Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC). Hari ini, 162 tahun yang lalu adalah hari lahir Kongregasi ini, setelah P. Jules Chevalier, seorang imam diosesan Bourges menyelesaikan doa novena Bunda Hati Kudus dan beliau mendapat jawaban dari “surga” dengan diterimanya dana untuk sebuah karya suatu “lembaga religius”. Singkatnya, tepat pada hari di mana Paus Pius IX memaklumkan dogma “Maria Immaculata” atau Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa ini Kongregasi MSC lahir. Saya sendiri menjadi MSC sudah 25 tahun lebih. Saya merasa bahagia dan ada sukacita hari ini. Saya merayakan HUT MSC di Kotaraja, Jayapura-Papua. Saya bersama umat melaksanakan novena, bukan Bunda Hati Kudus tapi Kerahiman Ilahi sebagai penutupan Tahun Kerahiman Ilahi. Novena ini dihadiri cukup banyak umat dan hari ini umat saya ajak untuk merayakan Hari Raya Gereja “Maria Immaculata” sekaligus HUT MSC ke 162.

Apa yang menarik bagi saya tentang MSC? Tahun 1987, saat itu saya adalah seminaris Mertoyudan, saya berkesempatan mengunjungi Novisiat MSC “Sananta Sela” di Karanganyar Kebumen. Saya menginap 2 malam. Novis waktu itu angkatan Rm. Marlon, Rm. Miranto, Rm. Jono, Rm. Jovinus Rahail, Rm. Hari Singkoh, Rm. Angki Pontoh. Yang saya alami pada saat itu ialah kagum akan keramahtamahan para MSC (para romo dan frater novis) dan persaudaraan yang tercipta di antara mereka. Sejak saat itu saya selalu memikirkan MSC dan rindu untuk tinggal di sana. Setahun kemudian saya datang lagi ke novisiat MSC. Pastornya masih sama, Rm. Hendro dan Rm. Roli (provinsial sekarang), tapi frater-fraternya sudah beda, angkatan Rm. Dwi Rahadi, Rm. Wahyu Hersanto, Rm. Bob Rarun, Rm. Sam Maranresi, Rm. Kor Kuli Keban, Rm. Bosco, Br. Matias. Hal yang saya alami tetap sama, yakni keramahtamahan yang tulus dan persaudaraan dari para MSC.

Apa yang saya alami di novisiat MSC itu membuat saya menjatuhkan pilihan saya untuk bergabung dalam komunitas ini. Ketika tiba waktunya untuk memutuskan untuk lanjut ke seminari tinggi atau tidak, saya sudah mengambil keputusan untuk bergabung dalam Tarekat MSC. Saya melamar untuk menjadi seorang MSC. Saya pun diterima. Saya sangat bersyukur. Saat saya menjalani masa pra novisiat di seminari tinggi di Pineleng saya semakin menyaksikan keindahan persaudaraan MSC dan keramahtamahan serta kehangatan para MSC saat bertemu dengan saudara-saudara (umat/masyarakat). Saya bertanya apa sebenarnya yang membuat Kongregasi ini punya “karakter” indah seperti ini? Saya memang hanya melihat dari luar, kacamata subyektif saya. Saya belum masuk ke dalam MSC itu sendiri, meskipun saya sudah dihidupi (dibiayai) oleh MSC. Jawaban itu saya temukan saat saya menjalani masa novisiat, tempat saya jatuh cinta pertama kali dengan MSC. Selama satu tahun penuh saya diajak mengalami cinta Allah. Saya diajak untuk mengenal betapa dalam, tinggi dan luasnya kasih Allah. Cinta kasih Allah itu secara nyata mengalir dari Hati Putera-Nya yang mengalirkan dan memancarkan darah dan air, yang dalam doa prefasi Hati Kudus disebut sebagai lambang sakramen- sakramen Gereja. Saya merasa itulah yang membuat para MSC memiliki keramahtamahan, kehangatan terhadap siapa saja yang dijumpai dan membangun komunitas persaudaraan. Pengalaman akan cinta Allah yang dihasilkan dari terus menerus memandang Hati Mahakudus Yesus membuahkan sikap yang mampu memberikan kehidupan baru.

 

Pengalaman Jules Chevalier akan cinta kasih Allah

Selama di novisiat saya mendapat kesempatan berkenalan dengan Pastor pendiri tarekat ini, P. Jules Chevalier. Tentu saja apa yang dialami P. Jules Chevalier menjadi cermin bagi para MSC. Pengalaman iman Jules Chevalier akan cinta kasih Allah sebagai “obat penyembuh penyakit dunia” tidak muncul tiba-tiba, tetapi melalui proses sejarah hidup yang panjang, yang diperkuat oleh sentuhan-sentuhan kasih Allah dalam peristiwa-peristiwa hidupnya yang konkrit setiap hari.

Pengalaman imannya akan kasih Allah itu mencapai titik kulminasinya pada saat profesornya menerangkan tentang peristiwa inkarnasi. Kata Jules: “Ketika kami belajar tentang penjelmaan, profesor kami menambahkan ajaran tentang kebaktian kepada Hati Kudus. Ia menguraikannya dengan penuh ilmu dan ibadah. Saya mencatat seluruhnya. Ajaran itu memikat hati saya, dan semakin saya mendalaminya semakin saya menikmati segi-segi baru yang menarik. Bapa pengakuan saya meminjami buku tentang hidup St. Margaretha Maria. Pelajaran itu menimbulkan dalam hati saya kerinduan yang sungguh untuk menjadi rasul dari kebaktian itu, yang diberikan oleh Tuhan kita sendiri kepada dunia sebagai upaya pengudusan yang kuat, hendaknya disebarkan ke mana-mana”.

Dari pengalaman ini P. Chevalier menemukan bahwa ada seseorang yang mencintai lebih dari dia sendiri bisa mencinta. Ia menemukan bahwa Allah adalah Allah yang mencinta. Bahwa Allah itu menampakkan diri dalam Yesus Kristus, seorang manusia dengan hati manusiawi. Cinta Allah ada dalam cinta manusia Yesus. Yesus dialami sebagai Sang Manusia Cinta. Oleh karena itu, yang menjadi pusat penghayatan hidupnya adalah 1Yoh. 4:16 “Kita telah mengenal dan telah percaya akan cinta Allah kepada kita”. Penghayatan ini menjadikan para MSC juga manusia cinta, misionaris “hati”.

Lebih jauh lagi P. Chevalier percaya bahwa kasih itu merupakan “obat yang mujarab” untuk menyembuhkan “penyakit-penyakit zaman” saat itu. Dia menulis “Saya telah memberitahukannya bahwa dua luka akan menggerogoti zaman kita yang tidak membahagiakan: sikap acuh tak acuh dan egois. Kita membutuhkan obat yang efektif untuk menyembuhkan penyakit-penyakit ini. Obat itu ditemukan di dalam hati Yesus; yang tidak lain adalah kasih dan kemurahan hati. Apalagi hati yang menawan ini tidak cukup dikenal, meskipun hati ini dibaktikan bagi seluruh umat manusia. Semua tidak mengetahui kekayaan-kekayaan yang dikandungnya. Karena itu dibutuhkan imam-imam dan mereka yang mau berkarya untuk memperkenalkan-Nya.

Dalam sepak terjang hidupnya setiap hari, sesudah mendirikan Tarekat, Jules hidup dan bergerak dari kekuatan kasih itu. Dari kepercayaan akan kasih yang mengalir dari hati yang tertikam itu, dia mendapat kekuatan dahsyat untuk berjuang terus memperkenalkan kasih itu kepada dunia sampai akhir hidupnya.

 

Bercermin pada Pengalaman P. Jules Chevalier

Sebagai Misionaris Hati Kudus, saya dan semua MSC diundang dan ditantang untuk hidup berdasarkan kepercayaan akan Cinta Allah Bapa yang dinyatakan dalam Hati Kristus. Kepercayaan akan cinta Allah harus menjadi “a driving force”, dalam cara saya berada, berpikir, merasa, bergaul, bertindak dan berkarya di dalam pelayanan hidup setiap hari. Kepercayaan akan kasih Allah harus menjadi jaminan bagi setiap MSC untuk berani hidup dalam ketidakpastian, untuk tidak cemas menghadapi hari esok yang tidak pasti, untuk rela bertugas di tempat yang sulit, untuk rela menerima tugas apa saja yang diberikan kepada kita, untuk tetap merasa aman di dalam menghadapi persoalan-persoalan pribadi yang rumit, untuk tidak mencari rasa aman bagi diri sendiri tetapi belajar hidup dalam ketergantungan total kepada Bapa.

Para MSC diandaikan telah mengalami kasih Allah yang bekerja di dalam hidup mereka dan kasih Allah itu menuntun, menemani, menyertai, membimbing, menguatkan dan mengukuhkan hidup mereka. Tetapi saya jujur untuk mengatakan dengan benar bahwa saya dan para MSC masih jauh dari pengalaman Jules Chevalier, yang sekali percaya akan kasih Allah, dia tetap hidup di dalam kasih itu sampai akhir hidupnya, walaupun harus menghadapi cobaan-cobaan berat di dalam hidupnya. Rahasianya tersembunyi pada pesan ibunya “Hati Yesus, kala aku masih kecil, ketika suara kanak-kanakku memanggil nama-Mu. Dengan polos aku menanjak dewasa ketika aku belajar memuji dan mencintai-Mu... Ibuku yang baik dan lembut berkata kepadaku: “Anakku, biarlah Hati Yesus selalu menjadi penolongmu, kekayaanmu, cahayamu. Maka sering dia membawaku ke Bait-Mu”, tulis Jules (Pater Jules Chevalier: Siapakah Dia?)

Oleh karena itu Jules mengajak para MSC agar bila mengalami kesulitan, katanya: “Para misionaris hendaknya...mereka akan berlindung pada-Nya, dalam kedukaan, dalam pencobaan, dalam kesusahan dalam persoalan.”

Para MSC dipanggil oleh Yesus untuk melaksanakan suatu pelayanan yang sangat istimewa yaitu menjadi rasul Hati Kudus, yang siap bersksi memperkenalkan kasih Allah di mana-mana. Oleh karena itu setiap MSC mempunyai “sense of mission” bahwa dia diutus oleh Hati Kudus Yesus sendiri untuk melaksanakan sebuah perutusan yang mahamulia dan mahabesar. Jika tidak maka mereka tidak akan berbeda dengan pekerja sosial biasa, yang bekerja memperjuangkan keutuhan hidup sesama, teristimewa yang menderita tanpa menyadari asal sumber perutusannya. Namun harus diakui dengan jujur dan rendah hati bahwa sense of mission ini sering menjadi tumpul karena pengaruh dunia zaman ini. Konsekuensinya banyak dari antara para MSC tidak tergerak untuk menghayati dan menghidupi serta mewujudnyatakan nilai-nilai kharisma Pater Pendiri yang begitu kaya dan dalam. Walaupun demikian, para MSC diajak untuk memperbaharui kembali komitmen kita sebagai anggota Misionaris Hati Kudus pada peringatan hari lahir Tarekat yang ke-162 ini.

 

 

Tentang Penulis:

Pastor Yohanes Leonardus Wisnu Agung Widodo, MSC pernah melayani sebagai Pastor Rekan di Paroki Kedoya, Gereja St. Andreas periode 2001-2005. Saat ini beliau bertugas sebagai pastor moderator mahasiswa di Keuskupan Jayapura, tinggal di Gereja Katolik Kristus Juru Selamat di Kotaraja, Jayapura.

 

 

 

 

Go to top