
Yohanes Baptis Maria Vianney lahir 8 Mei 1786 di sebuah dusun kecil bernama Dardilly, Lyons, Perancis. Keluarganya adalah keluarga petani yang sederhana dan rumahnya terletak diantara kebun anggur yang indah. Ayahnya bernama Matius dan ibunya bernama Maria Vianney. Mereka adalah pasangan suami istri yang saleh hidupnya. Kelemahlembutan ibunya telah tertanam dalam diri Yohanes dan diusia 18 bulan, Yohanes sudah bisa berdoa dengan mengatupkan kedua tangannya.
Pada tahun 1789, terjadilah perpecahan Revolusi Perancis, anti klerus dan anti gereja. Hal ini menyebabkan para imam di Perancis dipaksa menandatangi sumpah setia kepada negara, sehingga para imam yang masih setia kepada kepausan Roma tidak bisa mengadakan Ekaristi atau pelayanan lainnya lagi secara terbuka. Semua pelayanan itu dilakukan secara rahasia dan diam-diam. Karena itu juga, Yohanes menerima Komuni Pertamanya diusia 13 tahun di rumahnya secara diam-diam.
Kejahatan Revolusi Perancis telah membuat banyak imam yang melakukan pelanggaran, sehingga Yohanes pun merasa ngeri akan dosa dan timbullah rasa dalam dirinya untuk hidup saleh. Yohanes pun berkata, “Oh, andai aku seorang imam, aku akan berjuang untuk memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Tuhan.”
Pada tahun 1799, seorang absolut Perancis bernama Napoleon Bonaparte, berhasil memerdekakan gereja katolik, sehingga misa Ekaristi bisa diadakan kembali. Segera saja Yohanes setia mengunjungi Sakramen Mahakudus, sampai ia merasakan panggilannya untuk menjadi imam diusia 18 tahun. Akan tetapi, ayah Yohanes tidak mengizinkannya untuk masuk seminari, karena kekurangan biaya dan juga karena ia kekurangan tenaga untuk bekerja di ladang pertaniannya. Bahkan, ibu Yohanes pun tidak berhasil membujuk suaminya itu. Sepanjang waktu, Yohanes hanya bisa menyimpan semua itu dalam hatinya dan berserah pada kehendak Tuhan.
Suatu hari imam yang bernama Abbe Balley membuka sekolah kecil di Ecully untuk mempersiapkan anak laki-laki yang mempunyai panggilan menjadi imam. Ayah Yohanes setuju putranya itu belajar disana, tetapi sekarang malah Abbe Balley yang meragukan kemampuan Yohanes. Itu karena diusia 19 tahun, Yohanes hanya bisa membaca dan menulis. Lalu, Yohanes meyakinkan Abbe Balley, bahwa ia mengetahui banyak sekali kisah-kisah orang kudus. Maka, pada tahun 1807 Yohanes pun menerima Sakramen Penguatan dan menambahkan nama Baptis ditengah nama lengkapnya.
Setahun kemudian, Napoleon Bonaparte mengumumkan bahwa ia membutuhkan lebih banyak tenaga militer. Maka Yohanes dan para seminaris lainnya harus mengikuti wajib militer. Namun, dalam perjalanannya menuju markas Loyons, Yohanes jatuh sakit sampai ia harus dirawat. Karena itulah, Yohanes ditinggal oleh teman-temannya ditengah jalan. Lalu, pada tanggal 5 Januari 1809, walaupun masih dalam proses penyembuhan, Yohanes berjalan seorang diri menuju ke Roanne, sementara teman-temannya sudah mendahuluinya ke gereja untuk berdoa. Selama perjalanannya, Yohanes berdoa rosario sepanjang jalan. Ketika berada di pegunungan Le Forez, Yohanes sudah kelelahan, ditambah lagi saat itu sedang musim dingin. Lalu, ia bertemu dengan seorang laki-laki bernama Guy. Guy menawarkan bantuan untuk singgah dulu sementara di gubuknya didusun Les Noes.
Keesokan harinya, karena khawatir Guy adalah salah seorang pelarian dari wajib militer, maka Yohanes menghubungi ketua komunitasnya yang bernama Tuan Fayot. Tuan Fayot memberikan Yohanes tumpangan di rumah sepupunya selama 14 bulan, meskipun ia hanya tidur disebuah kandang. Sebagai ucapan terima kasihnya, Yohanes pun memberikan katekese kepada anak-anak dari sepupu Tuan Fayot.
Pada tahun 1810, Yohanes pun bisa bebas pulang ke rumah. Yohanes yang sudah berusia 24 tahun itu, harus menerima kenyataan bahwa, ibunya telah meninggal dunia. Sejak itu, Yohanes merasa tidak ada keterikatan dengan dunia lagi.

Tahun berikutnya, Yohanes menerima Tonsura (upacara pemotongan rambut sebelum ditahbiskan). Setelah itu, Yohanes belajar filsafat selama 1 tahun di Verrières. Selesai belajar filsafat, Yohanes pun kembali ke seminari dan mempersembahkan seluruh hidupnya, segala perbuatannya kepada Bunda Maria, seperti yang diajarkan oleh Santo Louis de Monfort.
Pada tahun 1813, Yohanes melanjutkan pendidikannya di seminari tinggi di Lyons. Disana ia lebih dikenal dengan nama Abbe Vianney karena ia sudah menerima Tonsura sebelumnya. Abbe Vianney dikenal juga sebagai seminaris yang melakukan laku tapa, silih, kerendahan hati dan permenungan yang mendalam. Namun, secara akademis Abbe Vianney sangat buruk, sehingga ia pun dikeluarkan dari seminari.
Abbe Vianney tidak putus asa dan ia pun dihibur dengan adanya suara yang mengatakan bahwa suatu hari ia akan menjadi imam. Abbe Balley pun memberikan bimbingan kepada Abbe Vianney untuk mengikuti ujian tahbisan rendah dan diakonat. Yohanes pun lulus ujian tersebut dengan nilai-nilai yang memuaskan.
Kesalehan Yohanes pun sampai terdengar oleh bapa uskup. Lalu, bapa uskup pun berkata, “Apakah ia berdevosi kepada Bunda Maria? Apakah ia setia mendaraskan rosario? Apakah ia sungguh seorang teladan kesalehan? Baguslah jika demikian! Aku memanggilnya untuk datang dan ditahbiskan! Gereja tidak hanya membutuhkan imam-imam yang terpelajar, tetapi, terlebih lagi, imam-imam yang saleh.” Pada akhirnya, Yohanes pun ditahbiskan menjadi subdiakon pada tanggal 2 Juli 1814, bertepatan dengan Pesta Santa Perawan Maria mengunjungi Elisabeth. Setelah itu ditanggal 15 Agustus 1815, Yohanes ditahbiskan menjadi seorang imam.

Karena kurangnya wawasan dan ilmu pengetahuan, Yohanes tidak diberi kesempatan untuk memberikan sakramen tobat. Namun, dengan kuasaNya, entah bagaimana caranya, Yohanes bisa melayani 18 sakramen tobat dalam sehari. Kemudian, Yohanes diutus untuk membantu Abbe Balley di Ecully sampai pembimbingnya itu meninggal dunia pada tahun 1817. Setelah itu, pada awal tahun 1818 Yohanes diutus untuk melayani di sebuah dusun kecil di Ars-en-Dombes yang hanya berpenduduk 230 jiwa dan Yohanes melayani disana selama 41 tahun dengan menghasilkan buah karya yang luar biasa. Yohanes selalu menuntun umatnya untuk senantiasa bertobat dengan menerima Sakramen Tobat. Selain itu, Yohanes juga menunjukkan betapa indahnya kasih dan pengampunan dari Tuhan.
Yohanes pernah berkata, “Suatu ketika, seekor serigala yang buas masuk ke desa dan melahap segala yang ada. Dalam perjalanan ia menemukan seorang kanak-kanak kecil berusia dua tahun, maka ditangkapnya kanak-kanak itu dengan rahangnya, dan dibawanya pergi; tetapi beberapa penduduk desa yang sedang bekerja di kebun anggur mengejar dan menyerangnya, lalu merenggut sang kanak-kanak darinya. Demikian pula halnya Sakramen Tobat merenggut kita dari cengkeraman si iblis.”
Yohanes pun meninggal dunia 4 Agustus 1859 di Ars, Perancis diusia 73 tahun dan tubuhnya masih utuh sampai saat ini. Lalu, ia dibeatifikasi 8 Januari 1905 dan dikanonisasi tahun 1925 oleh Paus Pius X.
