“Pelayanan yang Mendengarkan, Melayani, dan Melibatkan Umat untuk menjadi Kader Gereja”
Pembekalan diadakan Sabtu 2 Agustus 2025 di Aula Betlehem. Acara dimulai dengan registrasi pukul 8 pagi dan selesai pukul 1 siang. Pembekalan dihadiri oleh bapak/ibu DPH, ketua dan pengurus dari berbagai wilayah, lingkungan, seksi, komunitas, bagian dan tim periode 2025-2028. Total peserta yang hadir 130 orang, baik yang mendaftar melalui gform maupun yang mendaftar di tempat. Acara ini merupakan Kerjasama antara Seksi Pekad Paroki Kedoya dengan Tim Puspas Samadi.
Acara dimulai pukul setengah Sembilan pagi dengan bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Santo Andreas. Setelah itu dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Romo Paroki Romo Made Putrayasa MSC. Kemudian ada Ice Breaking yang dipandu oleh Pak Indra fasilitator dari Tim Puspas Samadi.
Sesi pertama dimulai oleh RD Yustinus Ardianto yang berfokus pada spiritualitas sebagai Pelayan dengan prinsip dasar “Setia kepada Allah dan berbelas kasih kepada sesama”. Diawali dengan refleksi kepada diri sendiri “What Are You Looking For?” Apa yang kita cari di dalam kehidupan? Fase kehidupan ada saat menanjak dan menurun dan masing-masing orang memiliki pengalaman unik menerima panggilan Tuhan. Dengan melayani kita bisa mendapatkan Meaningful Happiness. Rasa Bahagia dalam hati karena sudah bisa membantu atau melayani sesama. Setiap gembala memiliki spiritualitas, arah dan dasar penggembalaannya. Sebagai pengurus perlu bekerja sama dengan baik bersama Romo yang ada di Paroki, jangan pilih-pilih maunya Romo yang seperti apa. Ketua Lingkungan/Katekis/Guru adalah gembala yang paling dekat dengan umat. Jadi orang yang aktif di paroki haruslah aktif juga di lingkungan karena lingkungan basis paling utama. Ada beberapa hal dalam gereja yang tidak akan berubah namun perubahan tidak bisa dihindari supaya Gereja bisa terus berkembang mengikuti perkembangan jaman. Aturan vs “Mercy”, sering terjadi dimana aturan perlu ditegakkan tapi kita perlu mewujudkan pelayanan yang murah hati. Berusahalah untuk tetap melayani dengan prinsip berbelas kasih.
Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Teguh Eko yang berfokus pada kepemimpinan. Ada beberapa respon terhadap perubahan, ada yang menolak, pasrah, menyesuaikan. Sebagai pengurus gereja hendaklah kita belajar untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang mungkin terjadi dalam tata cara kepengurusan gereja. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk MEMPENGARUHI perilaku orang lain atau sekelompok orang, sehingga perilaku tersebut menjadi pendorong kuat bagi Tindakan positif untuk tujuan bersama. Memimpin berarti ada anggota atau pengikut, mempengaruhi atau memberi inspirasi untuk orang lain, kesediaan diri untuk menerima pengarahan dan bisa membagi tugas. Pemimpin yang mendengarkan perlu mendengarkan secara aktif, empatik, terbuka, sabar dan memberi waktu dan respon yang relevan. Terbuka terhadap masukkan dan kritik. Pemimpin pelayan mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan jabatan. Pemimpin pelayan mendahulukan orang lain, pendengar yang baik, empati tinggi, membangun orang lain, kerendahan hati, melayani dengan tindakan, komitmen. Komunikasi kunci penting dalam sebuah kepemimpinan. Komunikasi yang efektif memberi kemudahan dalam memahami pesan dan bisa terjadi feedback yang baik antara pemberi dan penerima pesan. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang berdampak positif.
Selesai sesi kedua para peserta diminta untuk mengisi kuesioner untuk evaluasi acara untuk melihat apakah perlu ada kelanjutan pelatihan-pelatihan semacam ini. Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab serta makan siang bersama. Dalam sesi tanya jawab ada beberapa pertanyaan bagaimana cara mengatasi konflik yang terjadi di lingkungan. Ketua/pengurus lingkungan perlu berperan aktif mengatasi konflik dengan mengambil waktu untuk mengerti permasalahan dan mencari informasi yang benar atas konflik itu sendiri. Setelah mengerti benar permasalahannya pengurus perlu berkomunikasi dengan pihak yang terlibat supaya bisa berdamai kembali.
Melia Mustika – Sie Pekad Kedoya
