
Marcella lahir pada sekitar tahun 325 di Roma, Italia dan berasal dari keluarga bangsawan Romawi Kristen. Nama ayahnya tidak diketahui, sedangkan ibunya bernama Albina yang terkenal sebagai umat Kristen yang taat dan juga terkenal akan kekayaan serta kebajikannya. Sejak masih kecil, Marcella sudah suka mendengar kisah orang kudus yang diceritakan oleh ibunya. Karena itulah, muncul dalam hatinya suatu niat untuk hidup suci dan hidup kudus.
Semangat menjalani kehidupan asketis semakin bertambah ketika Patriark Alexandria Athanasius tinggal dirumahnya. Pola hidup yang dijalani oleh Athanasius dan juga kisah-kisah ajaib dari orang kudus telah memikat hati Marcella. Ketika Patriark Athanasius akan kembali ke Alexandria, ia memberikan hadiah perpisahan berupa buku kisah hidup Santo Antonius Pertapa yang ditulisnya.
Sementara itu, kecantikan dan kekayaan Marcella menjadi sangat terkenal dikalangan masyarakat. Banyak pangeran bangsawan yang melamarnya, namun semua itu ditolaknya. Sampai akhirnya, lamaran dari seorang pangeran bangsawan yang paling berkuasa tidak bisa ditolak oleh keluarganya. Lalu, mereka pun menikah dan 7 bulan kemudian, suaminya meninggal dunia.
Setelah ditinggal oleh suaminya, Marcella menyadari bahwa hidup berumah tangga bukanlah pilihan Tuhan baginya. Ia mulai mengabdikan sisa hidupnya untuk karya amal dan menjalani kehidupan asketis dengan keyakinan bahwa Tuhan sudah mengarahkannya untuk hidup kudus. Marcella pun meninggalkan kehidupan ningrat yang penuh dengan kemuliaan duniawi dengan mengganti pakaian mewahnya dengan jubah coklat yang terbuat dari kain kasar. Marcella tidak lagi menata rambutnya ataupun memakai make-up.

Bersama dengan beberapa orang wanita, salah satunya Santa Lea, mereka mendirikan sebuah komunitas rohani yang dikenal dengan sebutan “Jubah Coklat.” Setiap hari mereka berusaha menjalani kehidupan yang suci dan kudus dengan berdoa, bernyanyi, membaca Alkitab dan melayani orang-orang miskin. Rumah megah Marcella pun dijadikan sebagai pusat penampungan dan perlindungan bagi para peziarah dan masyarakat miskin.
Pada tahun 382, Santo Hieronimus diutus oleh Paus Damasus I untuk tinggal di rumah Marcella. Marcella tentu sangat gembira menyambut pembimbing yang sangat terkenal itu di rumahnya. Banyak orang yang datang ke rumah Marcella untuk meminta bimbingan rohani dari Santo Hieronimus. Marcella dan komunitas Jubah Coklat pun dibimbing oleh bapa gereja tersebut.

Ketika Santo Hieronimus kembali ke pertapaannya di Yerusalem, banyak orang yang mengikutinya. Namun, Marcella memutuskan untuk tetap tinggal di Roma untuk memimpin komunitas biarawati yang ia dirikan. Komunitas Jubah Coklat pun berkembang pesat dan semakin banyak yang ingin bergabung dengannya dan mereka mengabdikan diri untuk melayani orang miskin serta terlantar. Karena jumlah pengikutnya terus bertambah, Marcella pun harus membangun banyak biara lagi untuk para biarawatinya.

Akan tetapi, pada tahun 410, kota Roma diserbu oleh bangsa Goth (Jerman). Marcella tidak memilih untuk mengungsi, maka Marcellla yang sudah berusia 70 tahun, ditangkap dan disiksa untuk merebut emas permata dan segala kekayaan keluarganya. Namun, semua harta itu sudah Marcella gunakan untuk keperluan biaranya. Bangsa Goth yang menyiksa Marcella pun merasa kecewa dan meninggalkan Marcella yang sudah sekarat begitu saja.
Lalu, Marcella dibawa oleh seorang muridnya yang bernama Principa ke Gereja Santo Paulus, Roma. Tubuhnya yang sudah tua renta tidak mampu menahan siksaan kejam yang ia alami. Marcella meninggal dunia sebagai martir keesokan harinya pada bulan Agustus 410.
