
Deogratias lahir dan hidup pada abad ke 5 di Kartago, Afrika Utara (Tunisia). Pada masa itu, kota Kartago sedang dikuasai oleh bangsa Vandal, sebuah bangsa penganut ajaran sesat Arian, sehingga mereka menangkap para imam dan uskup. Lalu, para imam dan para uskup akan ditempatkan pada rakit serta dihanyutkan ke laut. Namun, secara ajaib rakit-rakit tersebut selalu berhasil berlabuh di pelabuhan di Naples (Italia), maka para imam dan para uskup pun bisa diselamatkan.
Selama 14 tahun, kota Kartago tidak mempunyai uskup untuk memimpin para imam dan umat. Kemudian, Kaisar Valentinian meminta persetujuan kepada pemimpin bangsa Vandal yang bernama Genseric, agar memperbolehkan untuk mentahbiskan seorang uskup baru bagi kota Kartago. Genseric pun menyetujuinya dan memilih seorang imam muda dan diberi nama “Deogratias” yang berarti “syukur kepada Allah”.
Suatu ketika, Genseric dan pasukan kaum Vandal menyerang kota Roma. Mereka kembali ke Afrika dengan membawa banyak sekali budak belian, dari anak-anak, perempuan, laki-laki sampai orangtua. Para budak ditawan dan dibagikan kepada diantara kaum Vandal dan bangsa Moor. Genseric tidak memperdulikan para budak yang terpisah dari keluarga mereka. Uskup Deogratias yang mengetahui hal tersebut, ia sempat melihat kapal-kapal yang menyangkut para budak belian. Dengan menjual peralatan, jubah dan perhiasan gereja, Uskup Deogratias menebus para budak belian sebanyak mungkin dan semampunya. Ia juga berhasil menebus banyak keluarga dan menampung mereka semua dalam rumah-rumahnya. Setelah semua rumahnya sudah penuh, Uskup Deogratias juga menggunakan 2 gereja besar untuk menampung sisa budak belian lainnya. Selain itu, Uskup Deogratias juga membelikan selimut dan kebutuhan lainnya agar mereka merasa nyaman dilingkungan yang baru.
Disisi lain, Uskup Deogratias juga berhasil membawa kembali banyak umat yang sesat kepada pangkuan gereja. Lalu, setelah 3 tahun menjabat sebagai uskup Kartago, Deogratias meninggal dunia pada tahun 457. Semua karya dan tenaganya yang luar biasa tidak akan terlupakan oleh umat-umatnya di Kartago.
