
Gerardus lahir pada tahun 895 di Staves, Namur, Belgia. Keluarganya adalah Punggawa dari Count of Namur dan merupakan keluarga bangsawan yang kaya raya. Gerardus dibesarkan di keluarga aristokrat. Walaupun demikian, Gerardus tidak menjadi sombong, tetapi ia merasa kecewa dengan kehidupan mewah yang diterima oleh keluarga bangsawan seperti dirinya.
Dilingkungan teman-temannya, Gerardus dikenal sebagai seseorang yang baik hati dan sangat setia kawan. Setiap kali pulang dari berburu bersama teman-temannya, Gerardus selalu mengundang teman-temannya untuk makan dan istirahat di rumahnya. Sementara teman-temannya beristirahat, Gerardus pergi diam-diam ke sebuah kapel kecil untuk berdoa selama berjam-jam. Ia juga beristirahat di kapel tersebut, sampai lupa akan rasa laparnya sendiri.
Sampai suatu hari, Gerardus berkhayal, seandainya semua orang menyadari sukacita dari berdoa dan membayangkan para biarawan yang menyanyikan pujian bagi Tuhan. Bayangan itu adalah bibit awal dari cita-citanya untuk menjawab panggilan Tuhan dalam kehidupan religius.
Akan tetapi, Gerardus merasa peraturan-peraturan biara Belgia tidak terlalu ketat dan kurang disiplin. Lalu, ketika Gerardus sedang mengunjungi Perancis pada tahun 917, Gerardus terpesona dengan peraturan dari para biarawan Saint Denis yang lebih ketat dan lebih disiplin. Oleh karena itu, Gerardus pun meninggalkan kehidupan duniawinya dan bergabung dengan para biarawan Saint Denis, sampai ia ditahbiskan menjadi seorang imam.
Tinggal di biara, membuat Gerardus mempunyai semangat membiara yang luar biasa. Ia memberi teladan kepada para biarawan lainnya tentang taat pada peraturan dan pengabdian dalam berdoa. Sikapnya ini tidak hanya menjadi inspirasi bagi para biarawan di biaranya saja, tetapi juga bagi semua biarawan dari biara lainnya diseluruh Eropa.
Setelah mengabdi sebagai biarawan selama 11 tahun, Gerardus diberikan izin untuk mendirikan sebuah biara baru di Brogne. Biara tersebut berkembang pesat dan karena terlalu banyak aktivitas yang diadakan disana, maka Gerardus pun mendirikan sebuah gubug pertapaan disebelah gereja dan ia memutuskan untuk tinggal disana seorang diri.

Namun, para superiornya mengutus Gerardus untuk mengunjungi biara-biara di Flanders dan di Normandy. Disana Gerardus membimbing para biarawan untuk lebih tekun lagi dalam menjalani kehidupan religius mereka. Tugas perutusan ini Gerardus jalani selama 20 tahun.
Disela kesibukannya, Gerardus tetap menjalani hidupnya dengan matiraga yang ketat. Hal ini ia lakukan untuk membuktikan cintanya kepada Yesus. Ia juga menunjukkan cintanya lewat tindakan-tindakan penyangkalan diri. Ketika Geradus merasa bahwa masa hidupnya di dunia akan segera berakhir, Gerardus pun diizinkan untuk kembali ke gubug pertapaannya di Brogne. Ia pun meninggal dunia dengan tenang di gubug pertapaannya pada tanggal 3 Oktober 959. Santo Gerardus dari Brogne tidak mendapatkan kanonisasi secara resmi, namun namanya telah tercatat dalam daftar Roman Martyrology.
