
Simforianus lahir dan hidup pada abad ke 2 di Autun, Gaul (Perancis). Ia berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya bernama Faustus yang adalah seorang senator dan ibunya sudah mendapatkan beatifikasi, bernama Beata Augusta. Ketika masih muda, Simforianus melanjutkan pendidikannya di kota kelahirannya.
Setiap tahun, diselenggarakan acara penghormatan khusus kepada dewi pagan Cybele. Patung dewi pagan itu diusung dan diarak berkeliling kota. Sementara semua penduduk kota sujud menyembah berhala. Simforianus tentu dengan tegas menolaknya karena ia tetap berpegang pada imannya yaitu Yesus Kristus. Lalu, Simforianus ditangkap dan dihadapkan kepada Gubernur Autun yang bernama Heraklius. Saat berhadapan dengan gubernur, Simforianus berkata, “Namaku Simforianus. Aku seorang Kristen.”
Karena pada masa itu, yang menjadi pengikut Kristen masih sedikit, Heraklius tidak memahami maksud Simforianus. Maka, Heraklius menyuruh seseorang untuk membacakan peraturan kaisar mengenai penyembahan kepada dewi pagan Cybele. Lalu, Simforianus menjawab, “Semua perintah itu sudah aku tahu, tetapi aku harus lebih menaati perintah Tuhanku Yesus Kristus, Raja segala raja. Berikan kepadaku sebuah palu, maka aku akan menghancurkan dewi-mu itu. Aku mau melihat apakah perbuatanku atas dewimu itu akan mengakibatkan malapetaka besar atas seluruh rakyat kota ini.”
Mendengar perkataan itu, Heraklius sangat marah. Tetapi, karena Simforianus adalah seorang bangsawan, Heraklius masih memberinya kesempatan untuk mengakui kesalahannya dan menyembah patung dewi pagan Cybele. Heraklius juga memberikan Simforianus jaminan kebebasan, tetapi Simforianus tetap menolak tawaran itu.
Kemudian, Simforianus dibelenggu, dihukum cambuk dan digiring ke dalam penjara. Tepat ditanggal 22 Agustus 178, Simforianus dibawa ke tempat hukuman mati. Penganiayaan yang ia alami membuat tubuhnya lemas dan wajahnya pucat pasi, tetapi kepalanya dan tubuhnya tetap berdiri tegak siap menghadapi algojo. Saat itulah, dari atas dinding kota, Beata Augusta berteriak dengan lantang, “Nate, nate, Symphorianus, in mente habe Deum vivum. Hodei tibi vita non tollitur, sed mutatur in melius” (“Anakku, oh anakku Simforianus, ingatlah selalu akan Tuhan, hidup tidak dicabut melainkan hanya diubah menjadi lebih baik.”). Setelah itu, Simforianus menemui ajalnya sebagai martir Kristus dengan hukum penggal di Autun, Gaul.
