
Anna Muttathupadathu lahir 19 Agustus 1910 di Kudamalur, Kerala, India. Ia merupakan anggota keluarga Malankara Nasrani. Ayahnya bernama Joseph Muttathupadathil dan ibunya bernama Mary Puthukari. Lalu, Annakutty dibaptis 27 Agustus 1910 dan ia dikenal dengan nama Alphonsamma di komunitas gerejanya. Orangtuanya memanggilnya Annakutty atau Anna Kecil dan sejak masih muda, Annakutty sudah menghadapi banyak tantangan, termasuk ketika ibunya meninggal dunia. Sejak ditinggal oleh ibunya, Annakutty sering kali menjadi bahan ejekan teman-temannya.
Pada tahun 1916, Annakutty menerima pendidikan pertamanya di Arpookara dan menerima Komuni Pertama 27 November 1917. Setelah lulus, Annakutty pindah dan tinggal bersama bibinya yang bernama Anna Murickan yang berada di Muttuchira pada tahun 1920. Selama tinggal bersama keluarga bibinya yang termasuk keluarga terpandang, Annakutty diperkenalkan dengan kisah orang kudus, hidup berdoa dan lagu-lagu rohani dari neneknya.
Selama masa remaja, Annakutty dijodohkan dengan laki-laki dari keluarga ternama. Namun, semua lamaran pernikahan itu, Annakutty tolak karena ia memiliki kerinduan untuk menjadi mempelai Kristus. Semangatnya itu terinspirasi dari kisah hidup Santa Theresia dari Lisieux. Maka, pada tahun 1923, Annakutty dengan sengaja memasukkan kedua kakinya pada lubang sekam yang terbakar. Annakutty berharap agar bibinya akan berhenti menjodohkannya apabila ia menjadi cacat, sehingga ia bisa melanjutkan panggilan religiusnya. Dan ternyata, keinginannya pun terkabul, meski kecelakaan itu menyebabkan Annakutty cacat seumur hidup.
Kemudian, pada hari Minggu Pentakosta tahun 1927, Annakutty bergabung dalam Kongregasi Klaris Fransiskan di Biara Klaris di Bharananganam, distrik Kottayam. Lalu, pada tanggal 2 Agustus 1928, Annakutty menerima kerudung postulan dan memakai nama biara baru yaitu Alphonsa dari Dikandung Tanpa Noda yang terinspirasi dari Santo Alphonsus Liguori.
Pada bulan Mei 1929, Alphonsa mulai melayani sebagai pengajar di Sekolah Menengah Malayalam di Vazhappally. Sejak bibinya meninggal dunia ditahun 1930, Alphonsa melanjutkan pendidikannya di Changanacherry sambil bekerja sebagai guru sementara di Vakakkad. Kemudian, Alphonsa masuk sebagai novisiat pada tanggal 19 Mei 1930 di Bharananganam dan ditanggal 11 Agustus 1931, Alphonsa mengucapkan kaul pertamanya sebagai anggota Gereja Katolik yang utuh, serta ia berusaha meneladani hidup Santa Theresia dari Lisieux.

Selama Alphonsa melayani sebagai pengajar dan biarawati, ia juga mengalami penurunan kesehatan, sehingga hal itu juga yang mengganggu pelayanannya. Namun, pada bulan Desember 1936, Alphonsa menyatakan bahwa ia telah mengalami kesembuhan berkat doa perantaraan Santo Kuriakose Elias Chavara. Akan tetapi, pada tanggal 19 Juni 1939, Alphonsa dinyatakan menderita pneumonia berat dan ditambah lagi kejadian pada tanggal 18 Oktober 1940, dimana ada seorang penyusup yang masuk ke kamarnya pada malam hari. Hal ini membuat Alphonsa mengalami syok berat, sampai mengalami amnesia sementara.
Lalu, pada 29 September 1941 Alphonsa menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Meskipun ingatannya sempat pulih, Alphonsa kembali menderita infeksi diare dan masalah hati pada bulan Juli 1945 yang menyebabkannya kejang-kejang dan muntah-muntah. Ditahun-tahun terakhir hidupnya, Alphonsa berkenalan dengan seorang pastor bernama Sebastian Valopilly yang rutin memberinya Komuni Kudus dan semangat serta harapan.

Setelah menderita sakit yang parah, Alphonsa pun meninggal dunia 28 Juli 1946 diusianya yang 35 tahun. Lalu, jenazahnya dimakamkan di Gereja Katolik St. Mary di Bharananganam, Keuskupan Palai. Pemakamannya dihadiri oleh sebagian orang-orang penting, salah satunya adalah Pdt. Romulus CMI yang menyampaikan rasa kagumnya kepada Alphonsa karena pengabdian hidup tenangnya kepada Santa Theresia dari Lisieux. Alphonsa senantiasa memancarkan harapan daripada kesedihannya.
Kisah-kisah mujizat berkat perantaraan doa Alphonsa pun mulai dikenal dimana-mana, terutama cerita mujizat dari anak-anak ditempat dulu Alphonsa mengajar. Oleh karena itu, pada tanggal 2 Desember 1953, Kardinal Eugène Tisserant meresmikan proses keuskupan untuk beatifikasi Alphonsa yang dinyatakan sebagai “Hamba Tuhan.” Setelah itu, pada tanggal 9 Juli 1985, Alphonsa resmi diberi julukan “Suster Alphonsa yang Terhormat” oleh Paus Yohanes Paulus II dan ia pun dibeatifikasi 8 Februari 1986 di Kottayam oleh Paus yang sama.
Semenjak itu, semakin banyak dilaporkan mujizat kesembuhan, terutama kesembuhan pada kaki yang cacat atau yang tidak sempurna. Salah satu kisah yang terkenal adalah kesembuhan seorang anak laki-laki yang menyimpan gambar Alphonsa dan berdoa lewat perantaraannya. Kakinya yang cacat sejak lahir, secara ajaib menjadi sembuh dan normal kembali. Kisah-kisah mujizat ini diajukan kepada Kongregasi untuk Penggelaran Orang Kudus yang akan mencatat kisah ini kedalam majalah Passion Flower.
Dikisahkan juga mujizat kesembuhan kaki yang bengkok, dari seorang anak laki-laki berusia 10 tahun bernama Jinil Joseph, yang terjadi berkat doa perantaraan Alphonsa pada tahun 1999. Karena kisah mujizat itulah, akhirnya diadakan upacara kanonisasi Alphonsa pada tanggal 12 Oktober 2008 oleh Paus Benediktus XVI yang diadakan di Lapangan Santo Petrus, Roma. Upacara kanonisasi ini diawali dengan persembahan relikui Alphonsa kepada Paus oleh Suster Celia, Moeder Jenderal Kongregasi Klaris Fransiskan.

Dalam pidatonya, Paus Benediktus XVI berkata, “Kebajikan luar biasa beliau berupa kesabaran, ketabahan dan ketekunan di tengah penderitaan yang mendalam mengingatkan kita bahwa, Tuhan selalu memberikan kekuatan yang kita butuhkan untuk mengatasi setiap cobaan.” Kanonisasi Alphonsa ini disambut dengan petasan dan dentang lonceng di Gereja St. Mary Forane di Kudmaloor, yang merupakan gereja paroki Alphonsa, dimana disana mereka juga mempersembahkan misa kudus. Kini jenazah Alphonsa disemayamkan di kapel gereja parokinya tersebut.
Ditahun yang sama, seorang sutradara bernama Sibi Yogiaveedan membuat film dokumenter tentang Santa Alphonsa dari Dikandung Tanpa Noda yang berjudul Vishudha Alphonsama: The Passion Flower. Keluarga dan sahabatnya bersedia menjadi narasumber serta saksi dari perjalanan hidup seorang Alphonsa. Lalu, ditahun 2009, Bank Sentral India menerbitkan koin 5 rupee untuk memperingati 100 tahun kelahiran Alphonsa.
