Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Santa Helena, Pengaku Iman (18 Agustus)

How Saint Helena and the True Cross Changed an Empire
Santa Helena dan putranya (Kaisar Konstantinus Agung)

Flavia Julia Helena lahir sekitar tahun 248 di Drepanum, Asia Kecil (Helenapolis, Provinsi Yalova, Turki). Menurut catatan Santo Ambrosius, ketika Helena masih remaja, ia adalah seorang pelayan yang mengerjakan pekerjaan kasar. Ia lebih sering disebut “Bona Stabularia” (Pelayan yang baik).

Kemudian, ditahun 270, Kaisar Aurelius sedang menjalankan kampanye untuk memperluas wilayah kekaisaran Romawi. Kaisar Aurelius bersama dengan Jenderal Konstantinus Klorus melewati Asia Kecil untuk bertemu dengan Ratu Zenobia dari Kerajaan Siria. Lalu, ketika mereka melewati Drepanum, Jenderal Konstantinus Klorus dipertemukan dengan Helena. Saat itu, Jenderal Konstantinus Klorus segera mengetahui bahwa Helena adalah belahan jiwanya, karena mereka memakai gelang perak yang sama. Mereka pun akhirnya menikah dan tak lama dari pernikahannya, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Flavius Valerius Aurelius Konstantinus Augustus.

Belum lama merasakan kebahagiaan rumah tangga, Helena harus dihadapkan pada tekanan politik yang terjadi ditahun 289. Hal itu menyebabkan Jenderal Konstantinus Klorus harus menceraikan Helena dan menikah dengan putri Kaisar Maximianus yang bernama Theodora. Meski Helena sangat sedih, ia tetap menerima kenyataan itu dengan tegar.

Kemudian, Helena dan putranya dibuang ke Nikomedia karena Helena adalah penganut agama Kristen. Karena imannya itulah, Helena hanya berserah dan percaya bahwa Yesus tidak akan meninggalkannya. Kesucian dan keteguhan hidupnya telah menggugah hati putranya yang menganggap ibunya adalah satu-satunya wanita yang harus dipatuhi dan dihormati, meskipun ia belum menjadi pengikut Kristen pada saat itu.

Ditahun 305, terdengarlah kabar bahwa Jenderal Konstantinus Klorus sudah diangkat menjadi kaisar. Namun, Jenderal Konstantinus Klorus meninggal dunia 25 Juli 306. Sebelum meninggal dunia, Jenderal Konstantinus Klorus sudah berpesan agar putranya dari pernikahannya dengan Helena yang menggantikan posisinya menjadi kaisar. Karena itu, sesaat setelah Jenderal Konstantinus Klorus meninggal dunia, Flavius Valerius Aurelius Konstantinus Augustus segera dijemput dari Nikomedia. Flavius Valerius Aurelius Konstantinus Augustus pun dinobatkan sebagai kaisar yang baru dengan nama Kaisar Konstantinus Agung. Helena mengucap syukur atas berkat Tuhan itu. 

Meskipun Kaisar Konstantinus Agung sangat mengasihinya, Helena tetap tidak tenang karena putranya itu belum menjadi pengikut Kristen. Maka, Helena pun berdoa agar suatu hari Tuhan akan menyentuh hati putranya untuk dibaptis. Doa Helena itu pun didengar dan dikabulkan Tuhan. Kaisar Konstantinus Agung pun dibaptis oleh Paus Silvester I.

Setelah dibaptis, Kaisar Konstantinus Agung mengeluarkan suatu putusan yang bernama Edik Milano. Putusan ini berisi kebebasan umat Kristen dari penganiayaan yang sudah berlangsung selama 3 abad dan kebebasan beragama. Semua tahanan Kristen dibebaskan dan semua tanah gereja yang dijarah pun dikembalikan. Kaisar Konstantinus Agung juga memberikan gereja banyak sekali sebidang tanah dan mengeluarkan dana untuk membangun gereja-gereja baru. Selain itu, untuk menghormati Helena, ibunya yang sangat ia sayangi, Kaisar Konstantinus Agung mengangkat Helena sebagai ratu dan memberinya gelar tinggi bangsawan Romawi.

Saint Elen - Alchetron, The Free Social Encyclopedia

Pada tahun 326, Helena melakukan perjalanan ziarah ke tempat-tempat dulu Yesus hidup di Palestina. Setelah berziarah selama 2 tahun, Helena pun mendirikan sebuah gereja ditempat dulu Yesus dilahirkan. Gereja itu bernama Church of the Nativity, Bethlehem. Di bukit Zaitun, yang merupakan tempat dulu Yesus mengajarkan doa Bapa Kami dan tempat Yesus naik ke surga, Helena mendirikan 1 gereja dan 1 kapel bernama The Church of the Pater Noster serta The Chapel of The Ascension. 

Walaupun sudah menemukan tempat-tempat bersejarah Yesus hidup, ada 1 hal yang menjadi impiannya, yaitu menemukan tempat penyaliban dan Salib Suci Yesus. Setelah pencarian lebih dari 1 tahun, akhirnya Helena mengetahui bahwa Salib Suci Yesus berada dibawah Kuil Dewa Venus yang dibangun oleh Kaisar Hadrian pada tahun 119. Segera Helena meminta agar kuil itu dihancurkan. Akan tetapi, disana ditemukan 3 salib yang sama seperti punya Yesus dulu. Untuk membuktikkan yang mana salib Yesus, maka Helena membawa seorang perempuan yang sudah sekarat, hampir meninggal dunia. Lalu, perempuan sekarat itu menyentuh ketiga salib itu satu per satu. Ketika, perempuan itu menyentuh salib yang ketiga, secara ajaib perempuan itu sembuh total. Dengan mujizat penyembuhan itu, Helena percaya bahwa salib yang ketiga itulah Salib Suci Yesus. Dengan sambil bercucuran air mata, Helena yang didampingi oleh Gubernur Makarius, salib Yesus itu ditegakkan kembali untuk dihormati oleh orang banyak. Semua orang berkumpul dan berlutut sambil menyanyikan lagu Tuhan, Kasihanilah kami.

August 18th - St. Helen By: John Mannikoikal - OUR LADY OF PERPETUAL HELP

Mendengar bahwa Salib Suci Yesus telah ditemukan, Kaisar Konstantinus Agung segera mendirikan sebuah gereja ditempat itu yang bernama The Church of the Holy Sepulchre (Gereja Makam Suci).

Lalu tahun 327, Helena meninggalkan Yerusalem dan kembali ke Roma, sambil membawa sebagian potongan Salib Suci dan beberapa relikui peninggalan lainnya. Semua itu, ia simpan di istana pribadinya.

Helena meninggal dunia pada tahun 330. Untuk menghormati semua jasanya dalam membebaskan umat Kristen dari penganiayaan yang sudah berlangsung selama 3 abad, istananya diubah menjadi Basilika Salib Suci Yerusalem di Roma. Basilika ini sekarang dikelola oleh para biarawan Ordo Cistercian.

Leave a comment